Berkelana Ke Yogyakarta (Bagian I: Perjalanan Kehidupan)
Seminggu sebelum masuk kuliah, sebuah ide gila merasuki benak para pengurus Rumah Belajar, yang nampaknya tidak dapat menikmati liburan pada liburan kenaikan tingkat: Backpacking! Pilah-pilih tujuan, maka disetujui destinasi jalan-jalan kami: Yogyakarta! Yup, lalu kami memutuskan untuk liburan dengan biaya seminimal mungkin. Maksimal 100 ribu rupiah. Naik kereta ekonomi saja, tak usahlah kereta kelas bisnis apalagi eksekutif. Harus siap untuk tidur di mana saja, buanglah jauh-jauh bayangan hotel mewah nan nyaman. Kita akan merasakan kehidupan yang sebenarnya, kehidupan rakyat kebanyakan.
Bagi saya sendiri, Yogyakarta sudah mendapatkan tempat spesial di hati. Bagaimana tidak, pada masa kecil saya Yogyakarta sudah menjadi tujuan pasti ketika mudik lebaran. Setiap ada karyawisata oleh sekolah pasti dikunjungi. Bosan? Tentu tidak. Yogyakarta bagaikan sebuah gudang imajinasi yang tiada habis. Apalagi saya sudah sekitar 5 tahun tidak pernah menyambangi Yogyakarta. Jadi perjalanan kali ini menjadi perjalanan pelepas rindu
12 Agustus malam, kami sudah berkumpul di Stasiun Kiara Condong. Para pengelana yang turut bergabung: Saya, Sali, Lizi, Kasyfi, Yandi FT, Yandi TL, Mbu, Fikri, Ade, Clara, Tunjung, Ratih, Ibnu, Tomi, Mario, dan Has. Naik kereta ekonomi Kahuripan yang berangkat pukul 21.00. Peluit tanda keberangkatan kereta menjadi mula dari perjalanan kami. Dasar darah muda, bukannya beristirahat menghadapi perjalanan esok hari, kami malahan berman kartu dan tebak-tebakan tidak tidak jelas sampai larut malam. Inilah pengalaman pertama saya menumpang kereta ekonomi. Tidak ada kenyamanan kelas satu di sana. Tetapi sebagai gantinya, saya dapat melihat sebuah kehidupan yang jelas: perjuangan. Orangtua yang rela tidak tidur agar anaknya bisa mendapat tempat yang lebih empuk, hingga pedagang asongan berlalu-lalang di gerbong meneriakkan dagangannya, mulai dari “Mijon” (lafal untuk Mizone dalam sunda) hingga berganti logat hingga yang terdengar adalah “Mison”. Oh, kami sudah meninggalkan Tanah Pasundan.
Kami tiba pada saat matahari terbit di tanggal 13. Bukan di Stasiun tugu, melainkan di Stasiun Lempuyangan. Ya, kami sudah merasakan perjalanan kelas rakyat. Satu babak sudah selesai, berikutnya babak kedua: Menjelajahi Yogyakarta!
(bersambung, hingga saya sudah punya cukup kemauan untuk menulis lanjutannya)
gambar milik Spoor Soni
Tag: Backpacking, Kahuripan, Lempuyangan, YogyakartaRadix Juniardi Hidayat, 20 tahun, masih belajar menjadi manusia, masih pusing kuliah, belum kapok-kapok berkemahasiswaan di usia yang sudah tidak muda lagi, doyan Beatles, dan (alhamdulillah) masih rajin sholat. masih suka menulis yang aneh-aneh di http://radixhidayat.net











Berkumpul Kembali
Tahun Baru Ini…
Perkenalkan: Asfaloth Si Polygon Vintage






hehehe,, emang mijon dan mison beneran kayak gitu y?
waktu di kereta gak notice gw
@kasyfi: beneran kayak gitu kok…