Gelaran Wisuda Yang (Mungkin) Membawa Petaka
“Oh, mereka baru diwisuda, ya”, komentar saya saat melihat segerombolan orang mengelilingi sorang pemuda yang memakai toga. Niscaya saya akan turut bergembira atau minimal memberi doa agar segala ilmu yang dihisap oleh sang wisudawan semasa kuliah akan menjadi ilmu yang berguna, andaikata:
- Saya tidak sedang mengemudikan mobil saya.
- Gelaran wisuda tersebut tidak mengakibatkan kemacetan yang bisa bikin orang dongkol.
Ya, begitulah imbas yang biasa terjadi kala ada gelaran wisuda: kemacetan yang tiada tara (yang nampaknya cuma bisa ditandingi oleh fenomena “Si Komo Lewat”). Beberapa orang nampaknya mafhum dengan efek itu. Namanya saja acara wisudaan. Yang diwisuda tentu tidak hanya satu-dua orang. Yang menyertai wisudawan juga agaknya kurang afdol jika hanya Ayah atau Ibu saja. Ajak juga ajak adik, kakak, paman, bibi, kakek, nenek, bahkan kalau perlu Si Belahan Jiwa beserta keluarganya. Jadi wajar saja jika gelaran wisuda tersebut mengakibatkan kemacetan akibat mobil-mobil yang diparkir di badan jalan karena kehabisan tempat parkir yang semestinya. Namanya juga wisuda, bukan gelaran yang terjadi tiap hari, wajarlah kalau kita mengalah sedikit agar mereka bisa merayakan kelulusan mereka.
Tapi, sayangnya tidak semua orang berpikiran seperti itu. Penundaan 2-3 menit perjalanan karena kemacetan akibat gelaran wisuda bisa jadi putusnya nyawa seseorang di mobil ambulans. Bisa jadi juga ambruknya sebuah rumah yang terbakar akibat keterlambatan mobil pemadam. Ataupun kalau tidak menyangkut nyawa orang, minimal pasti mengakibatkan beberapa orang yang perangainya mudah marah (termasuk saya) untuk memulai mengeluarkan kata-kata kasar dan mengutuk para penyebab kemacetan itu. Kemacetan adalah pemborosani, bung! Pemborosan waktu dan uang!
Maka, cukup beralasan jika seorang kawan berseloroh, “Pantas saja Indonesia tidak maju-maju. Ilmu-ilmu sarjananya tidak berguna sih! Baru lulus juga sudah dikutuk orang gara-gara bikin jalanan macet!”. Saya sendiri, seorang calon sarjana, yang jika Tuhan menghendaki akan lulus pada Juli 2009 harusnya merasa malu. Gelaran wisuda yang dirayakan penuh meriah tanpa disadari telah membawa beberapa masalah bagi orang-orang sekitar. Kontribusi pertama seorang sarjana adalah kemacetan! Ah, ingin sekali rasanya saya bisa wisuda, dielu-elukan oleh keluarga dan sahabat, dan juga tidak sampai membawa mudarat bagi lingkungan sekitar…
*Ditulis sebagai imbas kekesalan karena kemacetan akibat wisuda pada 2 titik sekaligus: Unisba dan Sabuga. Sebal sekali…
Gambar milik Lowry Lou
Tag: Macet, WisudaRadix Juniardi Hidayat, 20 tahun, masih belajar menjadi manusia, masih pusing kuliah, belum kapok-kapok berkemahasiswaan di usia yang sudah tidak muda lagi, doyan Beatles, dan (alhamdulillah) masih rajin sholat. masih suka menulis yang aneh-aneh di http://radixhidayat.net











Kenapa Takut Berubah?
Jadi Presiden Mahasiswa itu Rugi
Gondjang Gandjing Kampoes!







tes…..
jadi, apakah saya akan diwisuda atau tidak ya?