Tabula Rasa

Belajar Menuliskan Kehidupan

What’s In The Name?

Bukan, saya bukan mau membahas tentang salah satu pepatah Shakespearian yang paling terkenal itu. Saya sedang membahas mengenai salah satu kebiasaan (unik) saya: menamai sesuatu.

Sudah lebih dari setahun ketika saya mulai menamai setiap barang yang sering saya gunakan. Laptop yang saya gunakan ini, contohnya. HP model TX1012AU ini saya hadiahi nama “Icarus”, nama tokoh mitologi Yunani yang berhasil terbang dengan sayap dari bulu angsa yang direkatkan satu sama lain dengan lilin, untuk memperoleh kebebasan. Sayangnya, Icarus ini keburu mati karena sayapnya berhamburan ketika lilin perekatnya meleleh kepanasan akibat ia terbang terlalu dekat dengan Matahari. Mungkin karena diberi nama itu, laptop saya ini kerap rusak. Ugh.

Mobil Baleno tahun 2005 yang sudah menemani saya bepergian mendapat nama “Yakumo”, yang diambil dari Tsukamoto Yakumo, tokoh School Rumble favorit saya. Saya namai demikian karena warna body-nya yang merah marun sangat mirip dengan warna mata Yakumo yang misterius. Lalu, rumah saya di Jalan Aria Utama 6 mendapat kehormatan dinamai “Terra”, yaitu Bahasa Latin untuk Bumi. Kostan saya di Jalan Sangkuriang 21 mendapatkan nama “Luna”, yaitu Bulan dalam Bahasa Latin.

Handphone Sony Ericsson K800i ini saya namai “Balmung”, yang merupakan pedang yang digunakan oleh Siegfried (yang juga nickname yang dahulu saya gunakan) untuk membunuh naga dalam puisi Nibelungenlied. Lalu flashdisk Kingston DataTraveler yang dipinjam sedari dulu oleh Lizi (balikin dong, Zi…) saya namai Legatus, yaitu pangkat untuk komandan legiun dalam militer Romawi. Oya, nama setiap harddisk saya pun berakar dari jabatan dalam Negara Romawi. Drive C saya dinamai “Praetor”, yang berarti hakim. Drive D saya namai “Praetorium”, yang bisa berarti tenda untuk jendral di medan tempur ataupun pasukan elit pelindung kaisar Romawi yang dibentuk oleh Augustus Caesar.

Beberapa barang yang yang bahkan saya belum miliki pun sudah saya siapkan nama. Sepeda yang entah kapan saya miliki sudah memiliki nama, yaitu “Asfroth” yang diambil dari nama kuda yang ditunggangi Glorfindel, seorang bangsawan elf dalam kisah The Lord Of The Ring. Sayangnya saya masih belum memilikinya, sehingga nama itu hanya akan tetap menjadi nama saja… (ada yang mau memberikan saya sepeda? :P )

Bukan hanya barang, binatang-binatang yang sering berkeliaran di sekitar saya pun mulai mendapat hadiah nama dari saya. Barangkali karena saya sudah begitu memfavoritkan Schol Rumble, di mana sang pemeran utama, Harima Kenji, adalah seorang pencinta binatang yang suka memberi binatang-binatang di sekitarnya dengan nama-nama yang agak “londo”: Napoleon, Anastacia, Pyotr, dll. Keren kan? Sayangnya kucing pertama di ITB yang saya beri nama tidak seberuntung itu. Kucing betina berwarna putih dengan aksen jingga dan coklat itu hanya mendapat nama Kuti, singkatan dari Kucing TI. Sial benar. Setelah saya menyadari betapa sengsaranya kucing itu karena mendapat nama yang sangat maksa, saya pun bertobat dengan memberi kucing-kucing berikutnya nama-nama yang lebih elit. Anastacia. Alexander. Elizabeth. Cukup keren, bukan? :D

Entah sampai kapan saya akan terus meneruskan kebiasaan yang cukup unik ini. Semoga lebih banyak membawa manfaat daripada musibah. Lalu, apakah arti sebuah nama? Di dalam nama terkandung sebuah doa… Maka, berilah nama-nama yang baik :D

What’s in a name? That which we call a rose,
By any other word would smell as sweet

Gambar milik The Idealist
Mari Berbagi
  • Facebook
  • del.icio.us
  • Digg
  • MySpace
  • Google
  • StumbleUpon
  • Live
  • E-mail this story to a friend!
  • Furl
  • Tumblr


Berbicara tentang , , + Disimpan dalam Coretan

11 Comments

  1. Kalau mengutip Shakespeare “What is in a name? That which we call a rose, by any other name would smell as sweet” berarti pesan “berilah nama-nama baik sebenarnya tidak perlu”. Bahkan saat bunga mawar tidak bernama tetapi akan tetap harum jadi seekor kucing, yang bernama Kuti maupun Napoleon, tidak ada bedanya, they’re still cats, they still go meow. Shakespeare justru mau menekankan bahwa, a name is nor hand, nor foot,
    Nor arm, nor face, nor any other part Belonging to a man. Apakah doa dalam nama dan juga kutukan dalam nama selalu berarti? Dalam pepatah itu Shakespeare justru malah mau memberikan pesan bahwa sebuah nama tidak selalu menjadi bagian dari seorang manusia.. Mungkin quote yang kurang cocok =)

  2. Intinya what matters is what is something, not the name. Saya ngga kasian tuh dengan Kuti.. Kenapa harus beranggapan bahwa kucing yang bernama Anastasia atau Napoleon lebih beruntung hanya karena namanya terdengar lebih “elit”?

  3. @Kaca:

    mm…

    Romeo sebenarnya mengucapkan kalimat terkenal itu kan karena nama mereka berdua yang menjadi penghalang cinta antara Romeo-Juliet…

    tetapi ,aku yakin, selama nama yang aku kasih itu bermakna baik, tidak akan menjadi masalah…

    tapi setelah kupikir, memang agaknya quote-nya kurang cocok…. biarlah :))

  4. (11:47:05 PM) Radix J Hidayat: nampaknya selera humor kamu agak beda denganku ya….
    (11:47:28 PM) Kaca: selera humor apa?
    (11:47:39 PM) Radix J Hidayat: komentar terakhir kamu itu…
    (11:48:05 PM) Kaca: oh, ok
    (11:48:50 PM) Kaca: hmm, mungkin karena kamu sudah membawa nama shakespeare, mindset aku langsung menuju pengkajian sastra
    (11:49:06 PM) Radix J Hidayat: itu cuma buat penarik massa kok…
    (11:49:15 PM) Radix J Hidayat: mirip sama foto luna maya di himpunan itu..
    (11:49:51 PM) Kaca: oh ok
    (11:50:08 PM) Kaca: hmmm mungkin klo dengan menggunakan quote itu, kamu bisa mengubahnya menjadi argumentative writing
    (11:50:17 PM) Radix J Hidayat: halah
    (11:50:32 PM) Radix J Hidayat: itu 90% merupakan hasil eksperimenku dalam memberikan nama
    (11:50:55 PM) Radix J Hidayat: terkecuali kucing2 malang itu, sisanya hakku sebagai pemilik barang2ku
    (11:51:30 PM) Kaca: mungkin dalam tulisan itu, kamu bisa membantah shakespeare dengan menekankan bahwa “name does matter”.. and a rose with a different name might not smell as sweet
    (11:51:42 PM) Kaca: karena itu kamu senang dengan memberi nama
    (11:52:19 PM) Radix J Hidayat: mmm….bisa jadi….
    (11:52:38 PM) Radix J Hidayat: atau bisa jadi pula, aku ingin memancing perhatian pembaca dengan argumen yang banyak celahnya…
    (11:53:00 PM) Radix J Hidayat: inget gak, waktu aku tunjukkin iklan The-Axe-Effect itu? yang kartu 9 wajiknya ada 2?
    (11:53:55 PM) Kaca: tapi kamu tidak memberitahu pembaca mana celahnya? dan kamu belum memanfaatkan celah tersebut untuk menghancurkan argumen yang ada..
    (11:54:20 PM) Radix J Hidayat: untuk itu ada kamu, kan?

  5. Hehehe… ga nyangka bakal meliat percakapan rumah tangga di blog ini… ;)
    Saya juga punya kebiasaan memberi nama, meski ga separah kamu dix.

    Komputer yang kupake kukasih nama phoenix… Alasannya? karena di casingnya ada tulisan phoenix :P kampungan banget ya…

    Sedangkan kucing di CC yang pernah kita ganggu bareng2 itu dix, gue kasih nama catherine… Kenapa? supaya kalo manggil cukup bilang cat…cat sini… dong (baca: Kat)

    Sedangkan kucing di salman yang jantan saya kasi nama Phillip…. Dan kayaknya dia bangga menyandang nama itu (faktanya dia senang ama saya hehehe…)… Entah dimana kucing irtu sekarang…

    @ Kaca & Radix: What a lucky couple you both, gue liat kalian cocok banget satu sama lain dari comment kalian masing2… keep it…

    Good luck for u both

  6. @Yandi:

    Percakapan rumah tangga….entah mengapa….terkesan terlalu….BERLEBIHAN!!!

    :lol:

  7. bukan percakapan rumah tangga tapi itu adalah diskusi tentang kritikan dari pembaca kepada penulis

  8. @Yandi: Betul kata Kaca -_-
    *nyampah*

  9. hehehehe….. jadi ketawa gue…. :D

    *ikutan nyampah ya dix*

  10. @Yandi:

    daripada komentarin yg ga penting, mending komentarin yg berbobot kek <_<

    damai….hahaha :D

Trackbacks & Pingbacks

  1. Keisengan Saya (arti nama) « Cahaya di atas cahaya

    [...] judul di postingan blog radix dia bertanya apa artinya sebuah nama. Maka boleh dong kalau saya sebut bahwa arti sebuah nama [...]

Leave a Reply