Tabula Rasa

Berubah!

Bukan, saya bukan mau bercerita tentang bagaimana kisah sepak terjang Kotaro Minami aka Kamen Rider Black dalam menumpas kejahatan. Saya cuma ingin bercerita tentang ‘mantra’ yang selalu diucapkan sang jagoan kita sebelum dia menumpas kejahatan: Berubah!

Kita tentu ingin dapat mengubah sesuatu agar sesuai dengan keinginan kita, bahkan kalau perlu sampai mengubah dunia. Namun, kadangkala kita terlalu bernafsu untuk mengubah hal-hal yang besar tanpa terlebih dahulu mengubah diri sendiri. Untuk lebih jelasnya, mari kita pertama-tama lihat isu-isu yang hangat dibicarakan akhir-akhir ini:

  1. Konflik Israel-Palestina di Gaza
  2. Pemilu 2009
  3. (kusus untuk mahasiswa ITB) Pemilihan rektor ITB
  4. Perihal TA (tugas akhir) dan kelulusan

Secara kasatmata (tanpa penelitian yang memakai prinsip ilmiah), saya bisa tebak kalau topik pembicaraan yang meraup perhatian paling banyak adalah no. 1. Wajar saja, karena isu ini menyangkut nyawa jutaan orang di sana, selain soal pelanggaran kedaulatan atas sebuah negara. Berikutnya–kalau sudah bosan mengutuk Israel atau kelambanan PBB–adalah perihal ‘pesta demokrasi’ kita, yaitu si Pemilu. Yang ini sih jelas tentang nasib negara kita selama 5 tahun ke depan (bisa lebih, tergantung apakah pemilu nanti menghasilkan rezim atau tidak). Nah, berikutnya para aktivis kampus biasanya akan membahas tentang pemilihan rektor ITB, orang yang akan mementukan kebijakan ITB selama 4 tahun ke depan. Terakhir (kalau tidak ada topik lain untuk dibahas), yang akan jadi bahan obrolan adalah curhat seputar masalah-masalah saat mengerjakan TA, kegagalan simulasi, dll.

Jadi?

Nampaknya (berdasarkan tebak-tebakan, kalau ada yang iseng-iseng bikin penelitian tentang topik obrolan ini kasihtahu saya ya), orang lebih tertarik membahas tentang isu-isu yang ‘besar’, ‘menarik’, ‘berefek luas’,–atau kalau saya istilahkan sebagai isu yang seberapa banyakpun dibicarakan hasilnya akan tetap nihil (kalau ada, tidak akan signifikan). Lalu, isu-isu yang cakupannya paling kecil biasanya akan dibicarakan paling sedikit, paling dekat dengan pembicaranya, tanpa menyadari bahwa isu tersebut adalah sesuatu yang paling dapat diubah. Katakan, setelah saya frustrasi karena simulasi model saya gagal-maning-gagal-maning, saya lalu berbincang-bincang dengan rekan ataupun dosen. Dan ternyata, si rekan berbincang itu punya solusinya! (oh, ada variabel yang salah tuh….) Jadilah, simulasi saya berhasil, dan saya jadi lulus tahun ini! (ini contoh yang sangat disederhanakan. Coba saja kalau TA semudah ini….)

Nah, ini dia masalahnya… Kita memiliki ‘zona’ di mana kita bisa mengubah sesuatu yang berada di dalam ‘zona’ itu, katakan namanya adalah lingkaran pengaruh (circle of influence). Kita berkuasa penuh terhadap segala yang berada di dalam zona ini. Yang dapat dimasukkan ke dalam zona ini adalah topik 3dan 4. Di luar itu, zona yang kita tidak dapat berbuat apa-apa adalah lingkaran perhatian (circle of concern). Topik 1 dan 2 dapat dimasukkan ke dalam zona ini, di mana kita tidak dapat berbuat banyak selain sekedar berkomentar. Pesimisnya, di dalam zona ini kita hanya bisa menerima (tentu saja sembari berharap keadaan dapat berubah sesuai keinginan kita).

Kesalahan kebanyakan orang adalah dia terlalu memberikan perhatian terhadap isu-isu yang berada di lingkaran perhatiannya, tetapi dia tidak pernah berusaha untuk memperlebar lingkaran pengaruhnya. Saya bukannya melarang untuk tidak peduli pada hal-hal besar yang sulit untuk diubah, namun saya menyarankan untuk mengubah yang berada di dalam zona pengaruh, sembari memperbesar zona tersebut. Kotaro Minami saja terlebih dahulu ‘mengubah’ dirinya sendiri sebelum dia mengubah dunianya. Yang lebih penting lagi, agar kita dapat membedakan mana hal yang dapat kita ubah dan mana yang tidak, seperti pada doa yang dipanjatkan Reinhold Niebuhr:

God, give us grace to accept with serenity
the things that cannot be changed,
courage to change the things
which should be changed,
and the wisdom to distinguish
the one from the other.

Mari Berbagi
  • Facebook
  • del.icio.us
  • Digg
  • MySpace
  • Google
  • StumbleUpon
  • Live
  • E-mail this story to a friend!
  • Furl
  • Tumblr
Tag: , ,

entrepreneur being, beatles lover, coffee addict, novice traveler, bicycler, keen on to play with his mind, loves to create things and enjoy quality time with people. a man on mission. and mostly, a human being.

5 Comments

  1. bagus dix, hehe.. udah lama lu ga posting, tau2 ada baja hitam disini..
    ujung2nya sama kayak nasihatnya Aa Gym y, yang 3M itu..

  2. haha… sejak kamu nyepet gw yg gapernah posting lagi, gw udah ngeluarin bbrp tulisan….

    ayoo dikomenin!! ^_^

    nasihat ttg berubah emang banyak bgt… mulai dari Aa Gym ttg 3M, lalu puisi yg terukir di makam di Westminster Abbey, hingga doanya Oom Reinhold..

  3. setuju dix,, mulai dari hal yang kecil…

    peradaban kan kumpulan dari kepingan kepingan kecil manusia yang saling bergerak ke arah yang satu..

  4. @kasyfi: haha, sekalian ngiklan blog kamu ya?

  5. wah jadi kangen baja hitam…hehehe

Leave a Reply