Reformasi Marian
Reformasi Marian bisa dikatakan sebagai salah satu kejadian paling penting dalam sejarah Republik Roma. Reformasi yang dipelopori oleh Gaius Marius pada 107 SM ini adalah reformasi militer di mana setiap warga negara Roma dapat menjadi prajurit dan negara wajib membiayai kebutuhannya. Reformasi ini melahirkan konsep standing army pertama di dunia yang menjadi salah satu kunci keberhasilan militer Republik Roma.
Sebelumnya, tentara Republik adalah tentara warga (citizen army) sukarela yang hanya direkrut pada saat perang dan dibubarkan ketika perang telah usai. Persyaratan menjadi prajurit pun sangat ketat: mereka yang boleh menjadi prajurit hanyalah warga negara (citizen) yang terdaftar pada kelas sensus kelima atau lebih dan memiliki kekayaan di atas 3000 serterci (koin perak). Belum lagi, setiap prajurit wajib membiayai sendiri kebutuhannya dalam perang. Hal ini dapat dimaklumi, karena Republik Romawi adalah negara militeris di mana tugas ketentaraan adalah tugas terhormat dan tidak sembarang orang dapat melakukannya.
Namun, sistem seperti ini memiliki banyak kelemahan, di antaranya:
- Butuh waktu untuk melatih tentara baru yang pengalamannya masih sangat minim untuk menjadi tentara terlatih
- Keterbatasan prajurit membuat tidak memungkinkan Republik untuk berperang dalam beberapa front sekaligus
- Perlengkapan maupun pelatihan tentara tidak terstandarisir
- Tidak memungkinkan untuk perang yang berkepanjangan. Menjadi prajurit bukanlah tugas utama masing-masing warga negara. Bagaimana ladang atau toko akan terurus kalau pemiliknya harus terus-terusan berperang?
- Minimnya kontinuitas. Ketika terjadi kekalahan besar (seperti di Cannae pada Perang Punic II), warga yang memenuhi syarat menjadi tentara otomatis akan berkurang.
Roma memiliki sekali banyak warga negara yang terdaftar tetapi tidak memiliki kekayaan maupun pekerjaan yang memadai (capita sensi). Mereka tidak diizinkan untuk berperang, pun mereka hanya menjadi beban bagi Republik. Lalu, Gaius Marius, seorang negarawan Roma, akhirnya datang dengan solusi: bagaimana kalau Republik menjadikan tentara sebagai pekerjaan yang dapat diikuti oleh siapa saja, digaji dan dibiayai oleh negara? Lebih jauh, setiap prajurit akan mendapat bagian dari rampasan perang dan di akhir masa dinasnya dia akan mendapatkan sebidang tanah di daerah jajahan sebagai bentuk pensiun. Dengan demikian, masalah pengangguran, orang miskin, dan kekurangan tentara dapat sekaligus teratasi. Dapat diduga, sistem ini disambut meriah oleh warganya. Reformasi ini melahirkan konsep standing army pertama di dunia (konsep ini punah seiring runtuhnya Kekaisaran Roma, dan dihidupkan kembali oleh Turki Ottoman dalam bentuk korpsĀ yeniceri).
Organisasi internal pasukan pun dirombak total. Perlengkapan maupun pelatihan prajurit diseragamkan. Model infantri velites-hastati-principes-triarii diganti dengan model prajurit tunggal berdasarkan principes. Taktik lama yang mengandalkan formasi papan catur dan 3 lini prajurit (hastati-principes-triarii) pun dihapus, diganti dengan cohort-cohort yang lebih fleksibel. Tiap prajurit menjadi bergerak dalam kesatuan century yang terdiri dari 80 orang di mana mereka bertempur dan beristirahat bersama. 6 century dikelompokkan menjadi satu cohort (8 century untuk cohort pertama), dan 10 cohort membentuk sebuah legiun yang (jika ditambah pasukan auxiliary dan nonkombatan) terdiri dari 6000 orang.
Republik kini memiliki cadangan tentara terlatih yang jumlahnya melimpah. Sebagai dampaknya, politik luar negeri Republik menjadi ekspansionis. Jendral-jendral Roma menjadi memiliki cukup tentara dalam kampanye-kampanye militernya untuk membawa panji-panji Roma ke berbagai belahan bumi. Kontrol Republik atas daerah jajahan pun menjadi kuat karena para prajurit yang pensiun akan mendapatkan tanah di daerah jajahan, sehingga ketertiban akan terjaga.
Namun, Marius tidak memperhitungkan bahwa pada kenyataannya tiap-tiap prajurit dibiayai dan digaji langsung oleh jendralnya. Hal ini akan mengakibatkan kesetiaan prajurit akan berganti dari Senat Roma ke jendral masing-masing legiun. Dampaknya, beberapa jendral yang sudah cukup kuat (seperti Sulla ataupun Caesar) akan menggunakan kekuatannya itu untuk berbalik melawan Senat Republik dan membawanya pada perang sipil yang berkepanjangan, hingga Octavian Caesar berhasil membawa Roma keluar dari perang sipil pada 27 SM.
Bagaimanapun juga, Reformasi Marian tetap menjadi tonggak supremasi militer Roma yang membawa Roma menjadi salah satu negara terbesar di era sebelum masehi.
foto oleh baranzTag: Gaius Marius, Reformasi Marian, Romawi
Radix Juniardi Hidayat, 20 tahun, masih belajar menjadi manusia, masih pusing kuliah, belum kapok-kapok berkemahasiswaan di usia yang sudah tidak muda lagi, doyan Beatles, dan (alhamdulillah) masih rajin sholat. masih suka menulis yang aneh-aneh di http://radixhidayat.net










The Dragon Inside
Star Wars Expanded Universe






cukup informatif… jadi nambah pengatahuan sekarang…
@kaca: makasih… kayanya aku jadi spesialis nulis yg beginian aja deh.. hehe
mmmhh…..
kau punya ketertarikan di bidang seperti ini yah?
@kasyfi: lumayan, gara2 keseringan maen RTS dgn setting ancient/medieval…
naon ieu dix? hehe
oke juga gara2 maen game jadi suka sejarah..
@zamakh: yaa.. tau kan gmana perkasanya prajurit2 Romawi? nah, reformasi ini yang bikin prajurit Romawi bisa begitu hebat…