Jadi Presiden Mahasiswa itu Rugi
Jangan bandingkan Presiden Mahasiswa (dalam kasus ini, presidennya mahasiswa ITB) dengan Presiden Republik Mimpi. Gengsinya kalah jauh. Tenarnya kalah jauh. Jadi presidennya mahasiswa itu lebih banyak ruginya daripada untungnya.
Contoh saja:
1. Waktu (pribadi) bakal terkuras habis. Jelas saja, karena sedari pagi-sampai-pagi ada saja kegiatan yang harus dlakukan. pagi-pagi sudah disuruh menghadap Kepala Kantor Lembaga Kemahasiswaan, siangnya kudu ngider-ngider menyoal grand design kaderisasi. malamnya masih ada forsil, tengah malamnya ada rapat sama mentri-mentrinya. Lebih enak jadi Presiden Republik Mimpi, kerjaan sehari-hari sesuai dengan jabatannya, yaitu bermimpi, kecuali kalau mau siaran untuk Republik Indonesia–tinggal senyam-senyum dikit–santai sekali, kan?
2. Studi terganggu, malah bisa terancam gagal. Sebagai mahasiswa, kegiatan sehari-hari jelaslah kuliah (khusus tingkat akhir, skripsi/TA). Mau jadi Presiden Mahasiswa? Kudu pinter bagi-bagi waktu, karena salah-salah bisa berakibat kuliah jarang datang, tugas jarang dikerjakan, dan ujung-ujungnya nilai berjatuhan. Presiden Republik Mimpi? Mereka kan sudah sarjana, sudah tidak kuliah lagi, jelaslah kalau beban kehidupannya lebih ringan. Bisa fokus pada kerjaan. Enak sekali…
3. Dukungan minim, bahkan dari mahasiswa yang “dipimpinnya” sendiri. Ada sedikit kesalahan, lalu bertebaranlah selebaran gelap yang mendiskreditkan dia. Dulu lebih parah, jaket almamater saja dibakar. Lalu rektorat pun tidak membuat keadaan menjadi baik. Wisuda ricuh langsung dipanggil, diminta klarifikasi. OSKM/PMB/INKM atau kaderisasi lembaga ada pesertanya yang “luka” (walaupun karena kesalahan dia sendiri), lantas dipanggillah dia. Stres!
4. Kudu bisa bekerjasama dengan menteri, manajer, dan staf yang tidak digaji, yang urusannya tidak hanya pada kabinet/BEM, yang jadwalnya sering tidak cocok, dan (semoga saja tidak) loyalitasnya diragukan. Tetapi dari pengalaman saya berada di kabinet, masalah utama dari lembaga mahasiswa semacam ini kebanyakan karena kurangnya SDM. Pasti repot sekali, ketika banyak kerjaan malahan orang-orang yang diharapkan membantu malah tak ada.
5. Ini intinya. Jadi presiden mahasiswa itu tidak digaji. Bayangkan, sudah susah-susah mengurus kepentingan mahasiswa, studi terganggu, waktu tidur berkurang, bahkanderita batin bertambah, tidak digaji pula…
Makanya, saya selalu salut pada orang-orang yang berniat untuk maju jadi presidennya mahasiswa, walaupun posisi itu (untuk dirinya) banyak sekali ruginya. Saya salut sama Izul, Shana, dan siapapun yang mau maju dalam pemilu nanti.
Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater.
Tag: Pemilu KM ITBRadix Juniardi Hidayat, 20 tahun, masih belajar menjadi manusia, masih pusing kuliah, belum kapok-kapok berkemahasiswaan di usia yang sudah tidak muda lagi, doyan Beatles, dan (alhamdulillah) masih rajin sholat. masih suka menulis yang aneh-aneh di http://radixhidayat.net











Kenapa Takut Berubah?
Gelaran Wisuda Yang (Mungkin) Membawa Petaka
Gondjang Gandjing Kampoes!







Selamat pagi Maz..
Salam kenal…Saya tertarik sekali membaca postingan ini, secara karena saya juga seorang aktivis kampus yang tidak digaji dengan uang recehan sekalipun. Namun memang sangat beda, kampus saya ini hanyalah sebuah kampus kecil(STKS Bandung, pasti Kang Hidayat juga ga tau kan STKS di mana..???), sangat jauh lah jika dibandingkan dengan ITB.
Sebenarnya ini masalah penyadaran kepada mahasiswa dan rektorat saja Maz, memang butuh tenaga untuk bisa mencapai ini semua, but ingatlah kata Bung Karno “Berilah aku sepuluh pemuda maka aku akan…..apa itu maz lupa aku he he he, ya pokoknya itulah(maklum saya ini bukan orang yang pintar atau cerdas jika dibandingkan dengan anak ITB but semangat saya bisa kok untuk menyamakan atau paling tidak menyetarakan lah dalam hal organisasi)..
Mm…Salam dan salut juga Maz buat Presiden Mahasiswa tersebut dan juga buat Maz beserta menteri menteri lainnya yang tentu saja tidak digaji..
@bocahbancar: “beri aku 10 pemuda, dan aku akan mengubah dunia”
sebenarnya, besar-kecilnya kampus g terlalu mempengaruhi iklim berkemahasiswaan..malah, kampus kecil pun bukannya lebih mudah untuk dipengaruhi daripada kampus besar ya?
apa sudah memikirkan atau mempertimbangkan buat jadi presiden “mahasiswa” ya??
itu tantangan dan konsekuensi.
wakwawwww
@dwi: begitulah…
@aul: jangan jadi takut, ul! hahaha!
wow wow wow…ngerliah ya jadi presiden mahasisw hahaha…mposs lo ul…
@candra: wowowowowo….. parah maneh can…. kasian si aul…
It’s a nice blog. Salam kenal ya….
wah..gk ajdi deh cita2 n’ obsesi terbesar mahasiswa jd pemimpin,
Hmmm.tapi bukankah aitu semau proses kiat dlm pendewasaan kakarkter,
selama kita bisa membagi waktu, why not !
-salam persaHabatan-
Yup !
yang pentingkan pengalamannya kan?
jadi pengen cepet cepet kuliah deh..
salah satu syarat capres sekarang kata rekan saya, sawung, adalah kesehatan rohani.
apakah benar? gimana ya cara menilainya?
@nino: selain pengalaman, yg penting juga hatinya…sebab, banyak pengalaman kalo salah bisa malah bikin orang tercebur ke kolam lumpur politik loh…haha
@toru: yup, emang pake surat sehat rohani…minta ke RSHS aja.. yg penting isinya surat tsb menyatakan bahwa si calon sehat secara rohani..
Safe our nation !!
sabdalangit’s web
MEMBANGUN BUMI NUSANTARA YG BERBUDI PEKERTI LUHUR
“jalan setapak menggapai spiritualitas sejati”
“Membangun kesadaran Rahsa Sejati”