Tabula Rasa

Pisau

Bruce Lee pernah berucap, jika di suatu pertarungan antara orang yang membawa pisau dan orang yang bertangan kosong, bukan mustahil jika orang yang bertangan kosong yang menang. Alasannya sederhana, karena orang yang membawa pisau hanya berfokus pada pisaunya. Serangannya menjadi tidak kreatif. Tetapi orang yang bertangan kosong akan lebih kreatif. Serangannya bisa jadi lewat pukulan, tendangan, bahkan gigitan, tandukan, tubrukan, kuncian, dsb. Kalau perlu, segala yang ada di sekitar tempat pertarungan akan dipakai. Tong, linggis, batu, pasir, dan semuanya.

Tak hanya pertarungan, fenomena “pisau vs tangan kosong” pun merambah di kehidupan sehari-hari kita. Eits, bukan berarti sekitar kita sudah menjadi rusuh. Tidak. Lihat saja, berapa banyak orang yang bertitel S1, S2, S3, bahkan postdoctoral yang posisinya Cuma jadi “bawahan”? Dan berapa banyak orang yang tidak punya titel bahkan bisa menggaji orang yang bertitel berderet yang saya sebutkan sebelumnya? Sebut saja Bob Sadino, Bill Gates, Michael Dell, dll.

Ibaratkan saja “pisau” adalah ilmu. Masalahnya bukan pada “pisau” yang kita miliki. Memiliki pisau jelas akan memberikan keunggulan dibanding yang tidak memiliki “pisau”. Namun, jangan sampai keberadaan “pisau” malahan jadi mengungkung kreativitas kita. Ternyata, faktor kreativitas memang penting, bahkan sampai dapat menutupi faktor kekurangan “pisau”. Nah, bagaimana dengan anda?

foto oleh -2hu-
Mari Berbagi
  • Facebook
  • del.icio.us
  • Digg
  • MySpace
  • Google
  • StumbleUpon
  • Live
  • E-mail this story to a friend!
  • Furl
  • Tumblr
Tag:

Radix Juniardi Hidayat, 20 tahun, masih belajar menjadi manusia, masih pusing kuliah, belum kapok-kapok berkemahasiswaan di usia yang sudah tidak muda lagi, doyan Beatles, dan (alhamdulillah) masih rajin sholat. masih suka menulis yang aneh-aneh di http://radixhidayat.net

3 Comments

  1. Saya yakin bisa “bertarung” baik dengan senjata atau pun tangan kosong, karena rasanya Tuhan telah memberikan saya suatu alat yang tidak bisa di tandingi oleh apapun iaitu Akal.

  2. Assalamualaikum kak Radix.. Udah lama ga singgah di sini…
    Hmm.. jadi ingat sebuah kata2 di buku promodel dan simulasi (bee.. padahal nilaiku masih T sampai detik ini)

    “A fool with a tool is still a fool”

    Moral of the story yang aku dapat dari tulisan singkat di atas adalah bahwa senjata utama adalah akal… pun tools lain yang ada hanyalah alat bantu….

    Nice post brother!!

  3. rakyat jelata says:

    menarik ini, baru kemarin saya berdiskusi dengan dosen saya mengenai sebuah pendidikan. sebut saja saya bernama a dan sekolah di sebuah sekolah xyz yang belajar mengenai ekonomi. Jadi kemarin beliau mengatakan bahwa itu telah masuk ke alam bawah sadar manusia untuk melakukan hal yang safe. kita kuliah diajari untuk mengerti dan memahami mengenai subjek yang kita pelajari, semisal anda kuliah elektro, maka anda mengerti perbedaan jam analog dan digital. lalu ketika ada disuruh berbisnis jam, anda ingat bahwa dulu diajari bahwa jam analog itu susah dibuat, komponen sulit, tapi daya hidup panjang. sementara jam digital lebih mudah dibuat tapi komponen juga sulit, terus daya hidup pendek. belum lagi dengan pertimbangan bagaimana cara menyusunnya. itu memaksa anda untuk berfikir tentunya, bisa-bisa anda sampai pada kesimpulan, wah dua-duanya punya resiko jadi lebih baik tidak usah saya ambil deh bisnisnya

    sementara itu tiba2 datang seorang mahasiswa desain interior, dia berkata, saya suka desain jam digital. jadi saya akan berbisnis jam digital, tanpa pikir panjang mengenai cara membuatnya dia dengan modal nekat membuat. hasilnya? anda punya seorang anak desain interior berbisnis jam sementara anak elektro kabur dari kesempatan bisnis itu.

    terlihat bahwa arah pendidikan belum berjalan ke arah yang benar, meskipun mempunyai sebuah cita-cita mulia akan tetapi justru kiranya itu menimbulkan permasalahan baru. jadi apakah dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa pendidikan tidak lagi dibutuhkan untuk bertahan dalam kehidupan nyata?

Leave a Reply