Tabula Rasa

Star Wars Expanded Universe

Co-Creation!!

Dalam dunia perfilman, nama Star Wars sudah tidak diragukan lagi namanya. Dengan nama besar dari sang kreator George Lucas, basis fans yang besar, serta universe yang begitu luas, tidaklah salah jika Star Wars adalah sebuah mitologi modern, yang sederajat dengan mitologi Yunani maupun Mesir. Mungkin bagi kebanyakan awam, Star Wars hanyalah sebuah trilogi film fiksi ilmiah yang berkisah mengenai perjalanan Luke Skywalker dalam menumpas kejahatan. Namun, itu tidak sepenuhnya benar. Star Wars adalah sebuah kisah sebuah galaksi sepanjang lebih dari 25.000 tahun, yang lebih dikenal sebagai Star Wars Expanded Universe (EU).

Pertanyaannya adalah, mungkinkah George Lucas membuat sebuah epik masif dengan rentang waktu yang sepanjang itu? Tentu saja tidak. Yang membuat semua itu adalah dari komunitas pecinta Star Wars. Selain trilogi orisinil maupun trilogi prekuel yang langsung dikomandani George Lucas, Star Wars memungkinkan pihak-pihak lain untuk mengembangkan kisah di galaksi Star Wars melalui media buku, komik, serial televisi, mainan, film animasi, hingga permainan komputer. Pihak-pihak lain inilah yang memberikan sebuah kisah epik Star Wars yang sepanjang lebih dari 25.000 tahun. Fenomena inilah yang dipelajari oleh Hermawan Kartajaya sebagai co-creation, yaitu sebuah proses kreasi bersama, bukan sendirian dari satu pihak.

Star Wars EU merupakan sebuah kontinuitas dan ekspansi dari trilogi orisinil maupun trilogi prekuel. Kisah-kisah EU ini menyediakan latar belakang mulai dari asal mula dari pihak protagonis, yaitu Jedi Order dan Galactic Republic serta pihak antagonis yaitu Sith Order. Para fans yang menjadi penulis cerita memungkinkan untuk mengisi “celah” yang belum tersentuh, dengan tetap merujuk pada jalan cerita yang sudah ada. Kisah-kisah ini jika bagus akan disetujui oleh Lucas Licensing sebagai pemegang lisensi Star Wars dan menjadikannya bagian resmi dari epik Star Wars. Bahkan, beberapa aspek dalam trilogi prekuel mengambil sumber dari EU, seperti nama planet Coruscant maupun nama Ksatria Jedi Aayla Secura.

Barangkali ada sebuah kekhawatiran kalau Star Wars akan kehilangan arah jika dikerjakan secara “gotong royong” seperti ini. Untuk mengantisipasinya, Lucas Licensing memberikan level-level untuk kisah-kisah yang dibuat, mulai dari level G (untuk George Lucas, sang kreator), C (untuk continuity, yang diadopsi menjadi bagian resmi kisah Star Wars), S (untuk secondary, kisah-kisah yang kurang koheren dengan EU), hingga level N (noncanon, yang tidak masuk ke dalam kontinuitas).

Benarlah, ungkapan Kartajaya, bahwa era Legacy Marketing sudah saatnya turun dan memberikan takhtanya pada sang raja baru, New Wave Marketing. Proses co-creation yang demikian, yang memungkinkan sebuah produk—bahkan film—untuk dikembangkan oleh banyak pihak dan menjadikan Star Wars sebuah epik luar angkasa yang masif, luas, dan secara emosional dimilki oleh fans.

*Artikel ini merupakan partisipasi Bloggers @ MarkPlus Conference 2010

Mari Berbagi
  • Facebook
  • del.icio.us
  • Digg
  • MySpace
  • Google
  • StumbleUpon
  • Live
  • E-mail this story to a friend!
  • Furl
  • Tumblr
Tag: , ,

entrepreneur being, beatles lover, coffee addict, novice traveler, bicycler, keen on to play with his mind, loves to create things and enjoy quality time with people. a man on mission. and mostly, a human being.

Leave a Reply