Tabula Rasa

Hancurkan Cetakannya: Jawaban Nyeleneh, Aksi Mencontek, dan Pendidikan

Kita harus …………….. tangan sebelum makan.

Itu sebuah pertanyaan yang dilontarkan @SoalBowBow di twitter. Uniknya, jawabannya malah beragam, dan seringkali absurd. @eroutami menjawab “mencoret”. @johanhimself menjawab “menjilat”. @ivanliciious berkata “mencium”. @achmadnoval malah lebih sadis, “memotong”.

Jawaban yang “benar”, tentu saja adalah “mencuci”. Itu yang diajarkan pada banyak dari kita (saya menghindari klaim “semua” di sini) sedari kecil. Mengapa? Karena itulah yang benar. Namun Pertanyaan di atas malah dijawab secara nyeleneh dan kreatif. Itulah @SoalBowBow, akun twitter yang rajin melontarkan pertanyaan-pertanyaan trivial yang akrab untuk sebagian besar dari kita di masa kecil. Pertanyaan-pertanyaan tersebut seharusnya hanya memiliki “satu jawaban benar”, namun malah dijawab secara nyeleneh, dan uniknya, kreatif. Dan fenomena Soal Bowbow ini meledak. Hingga saat ini, jumlah folowernya sudah menembus angka 220.000.

Dan fenomena ini juga berkembang, dengan munculnya beberapa akun twitter yang mengadopsi konsep serupa, namun dengan “segmen” berbeda. Ada @SoalCinta yang sering melontarkan pertanyaan seputar hubungan pria-wanita, hingga @SoalDewasa yang sering melontarkan pertanyaan saru, untuk pasar orang dewasa. Dan saya yakin, pasti ada lagi klon-klon yang ikut mengikuti kesuksesan Soal BowBow.

Mengapa? Mengapa orang berlomba-lomba untuk menjawab sesuatu secara salah? Mengapa orang ramai-ramai menjawab sesuatu secara unik? Satu hal yang terpikir oleh saya: Ini masalah kreativitas. Sudah menjadi pengetahuan umum, kebanyakan sekolah masih menganut prinsip “kebenaran Cuma satu”, dan jadilah: Semua orang dianggap sama, diberikan proses yang sama, tanpa menghargai keunikan individu. Seorang edukator dari Inggris, mengkritik model pendidikan macam ini, dalam salah satu ceramahnya yang terkenal di TED Conference, “Did School Kill Creativity?” dan dilanjutkan 4 tahun kemudian dalam “Bring On The Learning Revolution!”.

Model pendidikan “satu untuk semua” macam ini, memang acapkali mengunci kreativitas orang. Tidak ada ruang untuk kesalahan, bahkan di sekolah sekalipun. Tidak ada ruang untuk eksperimen, untuk setiap siswa mendalami apa yang dia suka, untuk memahami keindahan dari prosesnya. Dan sebagai gantinya, Siswa cuma diberikan beberan fakta dan hasil, sembari mengindoktrinisasi mereka dengan “inilah yang benar, dan yang lain salah”.

Dan efek ini berlanjut, hingga pada tahap penilaian siswa. Ujian. Karena yang terpenting adalah bagaimana seorang dapat menjawab dengan benar dan tidak mempedulikan proses berpikirnya, maka muncullah fenomena pada setiap sekolah: Mencontek. Tahap untuk melihat sejauh mana perkembangan siswa dikerdilkan hanya menjadi deretan angka saja. Saya 8. Kamu 7. Saya lebih baik dari kamu. Jika kamu 9, kamu pandai. Jika kamu 5, kamu goblok. Dan walhasil, maka pengejaran terhadap angka “9″ ini terjadi, dan dilakukan dengan cara apapun. Secara kreatif.

“Mencontek” ini seolah menjadi bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan sistem yang mengerdilkan nilai dari pendidikan. Mereka melakukannya secara kreatif, dengan analisis situasi yang matang, menjalin hubungan kerjasama dengan sesama siswa, demi menggapai tujuan bersama. Beragam metode lahir dan mati: dari mencatat kunci jawaban, hingga memanfaatkan teknologi canggih, sangat mungkin terinspirasi film-film spionase.

Jadi, siapa yang salah? Orang atau sistem? Saya tidak dalam kapasitas untuk mempersalahkan. Saya hanya melihat bahwa ada yang salah dalam sistem ini, sehingga melahirkan orang-orang yang mendobrak sistem dengan mencontek. Dan dari kekhawatiran akan adanya kesalahan dalam sistem ini, saya khawatir akan melahirkan paradigma yang kerdil terhadap pendidikan: hanya sebatas deretan nilai dan titel.

Maka, paradigma terhadap pendidikan peru ditinjau ulang, terutama oleh para pengambil kebijakan. Perlu sebuah proses reframing untuk memahami apakah hakikat pendidikan: Untuk mencetak lebih banyak orang bertitel sarjana, atau untuk memberikan ruang bagi pribadi untuk berkembang? Dan meminjam istilah Sir Ken Robinson, perlu perubahan pendidikan dari model industrialisasi, di mana setiap orang diperlakukan sama, “dicetak” untuk menjadi sama, kembali ke model agrikultur, di mana tugas edukator adalah untuk menyediakan lingkungan yang tepat: tanah, kelembaban, air pupuk, matahari, dst bagi anak didik untuk berkembang.

Saya juga ingin memberikan apresiasi saya yang walaupun hanya memiliki kekuasaan terbatas, sudah melakukan reframing pendidikan ini atas inisiatif mereka sendiri, dalam lingkup yang bisa mereka pengaruhi. Apresiasi terbesar saya pada edukator-edukator yang sudah menghargai setiap keunikan anak didik mereka, memberikan mereka ruang untuk berkembang sesuai apa yang mereka benar-benar inginkan.

“Pendidikan itu dari buaian ibu hingga liang lahat” – Muhammad

Mari Berbagi
  • Facebook
  • del.icio.us
  • Digg
  • MySpace
  • Google
  • StumbleUpon
  • Live
  • E-mail this story to a friend!
  • Furl
  • Tumblr
Tag:

entrepreneur being, beatles lover, coffee addict, novice traveler, bicycler, keen on to play with his mind, loves to create things and enjoy quality time with people. a man on mission. and mostly, a human being.

2 Comments

  1. Cool writing!! :)

  2. sistem pendidikan di Indonesia ga hanya membunuh kreativitas, tapi juga banyak yang mengikis nilai-nilai kemanusiaan pada orang yang dididik.

    contohnya kampus kita (omg, kampus kita yang mana ya? wkwkwkwk :p), yang seolah-olah menentukan bahwa tujuan hidup kita hanya satu jalur: teknologi, industri, uang.

    kita ga belajar ttg dampaknya bagi masyarakat dan lingkungan. saya jadi mikir, mau jadi apa bangsa ini? apa yang sebenarnya kita kejar sebagai label “kemajuan”? teknologi, industri. uang? how pity :(

Leave a Reply