When Nothing Goes Right, Go Left

Mardi Wu, CEO Nutrifood, barangkali adalah sebuah anomali dalam dunia bisnis Indonesia. Orang yang saya kenal via Twitter ini adalah seorang yang memiliki pandangan sosialis, padahal beliau sendiri adalah seorang CEO dalam dunia kapitalis. “Saya seorang sosialis yang terperangkap dalam dunia kapitalis”, akunya. Melalui sebuah sesi kopi sore di Bengawan Solo fX, saya berkesempatan untuk berbincang tanpa arah yang jelas: mulai dari manajemen operasi restoran Minang hingga mengupas teori ekonomi Amartya Sen.
Dan semakin larut, pembicaraan pun semakin menarik. Pernah mengambil kuliah filsafat nampaknya semakin membentuk pola pikir Mas Mardi untuk mempertanyakan segala sesuatu. Beliau lalu berbagi mengenai Amartya Sen, seorang pemenang Nobel Ekonomi yang ternyata mengungkap fakta mengenai ekonomi transaksional sebagaimana yang kita kenal sekarang. Menurut Sen, teori ekonomi–terutama yang dicetuskan oleh Adam Smith dalam Wealth of Nations–didasari oleh terlalu banyak asumsi mengenai manusia, terutama sisi X bahwa manusia adalah binatang yang akan saling membunuh demi mendapatkan suatu barang pemuas kebutuhan. Dan ekonomi transaksi itulah — yang seharusnya dijaga agar tetap berada pada ranah ekonomi yang secara salah kaprah merasuk ke terlalu banyak sendi kehidupan. Imbasnya pun macam-macam: ketika kita memilih sekolah/universitas, dalam pertimbangan akan muncul kemana saja lulusannya akan bekerja dan berapa rata-rata gajinya. Ketika memberikan dukungan politik, akan juga diperhitungkan mengenai keuntungan finansial jika saya memberikan dukungan finansial pada sebuah calon. Ujung-ujungnya, politik murni menjadi perdagangan yang meniadakan fungsinya untuk kepentingan publik. Kemanusiaan pun pelan-pelan terkikis oleh sistem ekonomi transaksional seperti ini.
Lalu pembicaraan beralih pada pandangannya mengenai sistem korporasi, terutama kritiknya pada sistem kapitalisme. Menurutnya, tugas perusahaan bukan hanya meningkatkan nilai untuk para pemegang saham, tetapi juga pemangku kepentingan seperti pegawai, pemerintah, dan masyarakat sekitar. Bahwa posisi pemegang saham akan dianggap tidak lebih dari penyumbang kapital untuk perusahaan saja, bukan segalanya seperti pada korporasi dewasa ini. Fungsi perusahaan bukan hanya untuk menghasilkan keuntungan finansial yang memaksimalkan nilai bagi pemegang saham belaka. Perusahaan bagi pegawai-pegawainya bukan hanya tempat mencari uang, tetapi kehidupan. Bagi masyarakatnya, perusahaan adalah sarana untuk memberikan kehidupan yang lebih baik: dari penghasilan, masyarakat bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik, dan pada akhirnya taraf hidup mereka akan meningkat.
Dan prinsip ini yang Mas Mardi terapkan dan tanamkan di Nutrifood. Pola manajemen yang beliau terapkan di Nutrifood tak ubahnya seperti keluarga. Nutrifood menjadi perusahaan yang seperti layaknya keluarga bagi pegawai-pegawainya. Kepercayaan, lanjutnya, merupakan modal dasar bagi sebuah keluarga yang solid. “Dalam keluarga, tidak ada istilah kontrak, karena kita semua saling percaya”. Dan di Nutrifood sendiri, aroma kekeluargaan sangat terasa kental. Nutrifood itu tidak menerapkan sistem absensi, performance appraisal, maupun standar kebijakan yang umum dilakukan bagi sebagian besar karyawannya.
Janji lain memanggilnya untuk mengakhiri perbincangan kita, yang ditutupnya dengan senyum yang ramah. Tidak sabar lagi untuk sesi kopi berikutnya!
Tag: Bisnis, Sosialismeentrepreneur being, beatles lover, coffee addict, novice traveler, bicycler, keen on to play with his mind, loves to create things and enjoy quality time with people. a man on mission. and mostly, a human being.










Hancurkan Cetakannya: Jawaban Nyeleneh, Aksi Mencontek, dan Pendidikan
The Future of Water-Cooler Effect





